Belajar Fotografi dari Ahlinya

Suasana belajar di Kelas Menulis Kepo dengan materi fotografi

Suasana belajar di Kelas Menulis Kepo dengan materi fotografi

Kelas Menulis Kepo sudah memasuki pekan keenam. Pada pekan keenam ini (23/1/2016), Kelas Menulis Kepo menghadirkan pemateri yang berbeda. Berbeda karena pemateri kali ini adalah seorang fotografer dengan segudang prestasi yang bahkan sudah sampai ke level internasional.

Loh? Kenapa fotografer yang didatangkan? Bukannya ini kelas menulis? Mungkin ada yang bertanya begitu, tapi bukankah sebuah foto dan sebuah tulisan punya maksud yang sama? Sama-sama mengabarkan atau mendokumentasikan sebuah kejadian. Ada yang bilang; foto adalah tulisan yang divisualkan dan tulisan adalah foto yang diceritakan.

Lagipula bukankah akan lebih menarik kalau seorang penulis juga mampu menampilkan foto yang menawan untuk menambah kesempurnaan tulisannya? Dan itulah alasan utama kenapa fotografi dimasukkan dalam kurikulum pelajaran Kelas Menulis Kepo.

Pemateri yang dihadirkan oleh Kelas Menulis Kepo adalah Armin Hari yang di kalangan fotografer di Makassar sudah cukup terkenal. Beliau sudah beberapa kali memenangkan kejuaraan dan lomba foto bahkan sampai ke tingkat internasional. Prestasi yang tentu saja membanggakan.

Armin Hari memulai materinya dengan memaparkan tentang bagaimana seharusnya seorang fotografer bersikap ketika akan memulai sebuah proyek foto, entah itu photo essay, entah itu photo story atau bahkan hanya foto tunggal.

Hal pertama yang ditekankan adalah berpikir di luar kotak alias mencoba mencari sesuatu yang berbeda dari subjek yang akan direkam. Armin juga berpesan agar kita berusaha untuk pura-pura tidak tahu tentang subjek yang akan kita rekam gambarnya. Kebiasaan sok tahu atau merasa sudah sangat tahu menurutnya justru bisa mematikan kreativitas kita dan luput merekam hal-hal yang detail dan menarik.

Memerhatikan hal detail juga sangat diharuskan. Kadang kala kita lupa untuk melihat hal detail dan malah fokus pada hal yang terlalu lebar atau terlalu global. Armin Hari punya trik khusus, sebelum memulai memotret biasanya dia akan melakukan observasi dulu tanpa sama sekali melibatkan kamera. Observasi dilakukan untuk mendekatkan diri dengan subjek foto sekaligus melihat semua hal-hal detail.

Intinya kepada seorang fotografer, Armin menyarankan untuk selalu berusaha melihat hal baru dengan cara yang lain. Satu tambahan lagi, sebelum memulai sebuah proyek foto ada baiknya melakukan riset visual dulu dengan melihat foto-foto tentang tempat atau peristiwa yang akan dijadikan subjek foto kita. Dengan cara itu kita bisa tahu foto seperti apa yang sudah terlalu banyak direkam dan foto seperti apa yang sebaiknya kita ambil untuk membuatnya berbeda dari yang lain.

Dalam kelas semalam Armin Hari banyak bercerita tentang photo essay dan photo story. Kedua jenis fotografi itu ibarat sebuah tulisan, menampilkan beberapa foto dengan tema sama yang ketika disusun seakan bercerita layaknya sebuah tulisan.

Photo essay, kata Armin Hari, adalah foto yang diambil secara berurutan. Misalnya kita mengambil cerita seorang tukang parkir. Foto bisa dimulai dari aktivitasnya memulai hari, mempersiapkan seragam, keluar dari rumah sampai aktivitasnya di tempat kerja. Semua foto dibuat berurutan hingga seakan-akan bercerita.

Dalam membuat photo essay, Armin menceritakan kalau prosesnya hampir sama dengan menulis. Kita akan menentukan sendiri bagian mana yang akan ditaruh sebagai pendahulu dan diikuti dengan bagian-bagian lainnya. Untuk photo essay Armin menambahkan kalau jumlah fotonya minimal enam dan maksimal dua belas foto dan boleh ditambah dengan kalimat untuk menjelaskan foto tersebut.

Sementara itu photo story adalah sebuah foto berseri yang boleh tidak berurutan tapi dengan tema yang sama. Armin memberi contoh tema photo story “celana dalam merah”. Si fotografer bisa membuat rangkaian foto tentang celana dalam merah dari berbagai tempat meski urutan kejadian tidak berurutan dan subjek berganti-ganti.

Dalam membuat photo essay ataupun photo story harus ada satu foto yang dijadikan sebagai foto andalan atau stablishing shot. Foto ini diharapkan akan membuat orang tertarik untuk melihat sisa foto lainnya. Dalam tulisan mungkin seperti pengait atau hook yang dipasang di paragraf awal untuk memikat pembaca.

Photo essay atau photo story yang baik adalah yang akhirnya bisa membuat orang berkelahi.” Kata Armin. Berkelahi yang dimaksud Armin tentu saja bukan berkelahi secara fisik, tapi semacam konflik atau diskusi antara mereka yang melihatnya. Menurutnya, photo essay atau photo story jangan memberi kesimpulan sendiri tapi biarkan orang berdebat tentang kesimpulan dari photo essay atau photo story tersebut.

Selain bercerita banyak tentang photo story dan photo essay, Armin Hari juga banyak membagikan tentang teknik dasar fotografi. Mulai dari komposisi, pemilihan ISO, memilih bukaan lensa atau aperture, memilih speed atau kecepatan shutter sampai hal yang lebih teknis seperti isi badan kamera.

Semua peserta yang hadir malam itu mengaku sangat puas dengan materi yang dibawakan Armin Hari. “Saya pernah ikut kelas fotografi berbayar, tapi materi yang tadi lebih keren dan lebih lengkap.” Kata Ifah, salah satu peserta Kelas Menulis Kepo angkatan kedua.

 

Inisiasi beberapa pegiat komunitas di Makassar untuk sama-sama belajar menulis
Posted in Catatan and tagged , , .

Kelas Kepo

Inisiasi beberapa pegiat komunitas di Makassar untuk sama-sama belajar menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *