Belajar Observasi dan Teknik Wawancara

Suasana kelas hari Jumat 12 Feb 2015

Suasana kelas hari Jumat 12 Feb 2015

Kelas Menulis Kepo kembali dilanjutkan. Kali ini dalam pertemuan kesembilan yang diadakan di Kafe Baca hari Jumat 12 Februari 2016, Kelas Menulis Kepo mengangkat materi tentang teknik observasi dan teknik wawancara. Adalah Kamaruddin Azis daeng Nuntung yang jadi pemateri. Beliau selain sebagai seorang blogger juga adalah pekerja NGO yang sudah malang melintang di berbagai kegiatan dan proyek berbasis pemberdayaan masyarakat.

Dalam materi yang dibawakannya, pria yang akrab disapa Daeng Nuntung ini menekankan pentingnya observasi dan wawancara dalam membuat sebuah tulisan yang bagus. Menurutnya, observasi dan wawancara adalah dua bekal penting dalam menghasilkan sebuah tulisan. Tanpa keduanya, tulisan akan sangat kering dan nyaris tidak bermuatan apa-apa.

Observasi yang dimaksudkan oleh bapak tiga anak ini terbagi atas dua yaitu observasi yang dilakukan melalui riset bacaan (baik di internet maupun lewat buku dan bacaan) serta yang paling penting adalah observasi langsung di lapangan. Menurutnya, observasi bisa membantu kita melihat fakta yang sebenarnya dari luar.

Dalam melakukan observasi kata daeng Nuntung, kita tidak harus mengedepankan fakta atau hal-hal yang faktual. Hindari juga melakukan justifikasi atau penghakiman terhadap suatu kondisi. Contohnya bila di sebuah desa atau sebuah tempat kita melihat sebuah rumah yang kondisinya menurut kita sederhana atau bahkan kumuh, kita tidak seharusnya menyimpulkan kalau pemiliknya adalah orang miskin. Bisa saja rumah tersebut memang kumuh karena bersifat sementara, atau bisa saja pemiliknya sebenarnya punya tabungan. Kita hanya boleh mencatat semua fakta yang kita lihat, tanpa memberi kesimpulan.

Hal terpenting dalam sebauh observasi menurutnya adalah mencatat semua fakta dengan menyebutkan kuantifikasi atau jumlah. Jangan mencatat fakta hanya berdasarkan perasaan saja. Misal, di sebuah desa kita harus mencatat berapa jumlah rumah yang berdinding batu, berapa yang berdinding kayu dan sebagainya. Contoh lain, kita harus bisa mengukur berapa lebar jalan di desa tersebut, bagaimana kondisinya dan sebagainya. Fakta yang kuantitatif akan sangat membantu pembaca untuk menyusun bayangannya sendiri setelah membaca tulisan kita.

Urutan-urutan dalam melakukan sebuah observasi yang ideal menurut daeng Nuntung adalah sebagai berikut:

  1. Cari informasi awal tentang lokasi yang akan didatangai. Informasi bisa didapatkan lewat internet atau sumber lain, misalnya dari teman yang pernah ke sana atau dari data pemerintahan.
  2. Dari informasi awal kita bisa mulai membangun hipotesa atau teori tentang tempat tersebut.
  3. Setibanya di lokasi (dalam hal ini daeng Nuntung menggunakan contoh sebuah desa), mulailah berjalan berkeliling sambil berbasa-basi dengan warga sekitar.
  4. Cobalah untuk menyusun kerangka hasil pengamatan itu dalam kepala.
  5. Ambil beberapa tema besar yang ditemui sebelum fokus ke satu isu.
  6. Kumpulkan data yang sebanyak-banyaknya dari tempat tersebut, utamanya yang menyangkut sumber daya (resources), organisasi (organization) dan norma-norma yang dianut warga setempat (norms). Memang tidak semua data akan terpakai dalam tulisan, kita bisa menyingkirkan sebagian ketika sudah mulai menyusun sebuah tulisan.

Selain teknik melakukan observasi, daeng Nuntung juga memberikan banyak tips dan trik dalam melakukan wawancara. Wawancara punya fungsi sangat besar dalam menyusun sebuah tulisan, apalagi untuk jurnalis warga. Ketika melakukan wawancara, di situ pula ada banyak data dan fakta yang akan sangat berguna bagi kita.

Tips melakukan wawancara yang diberikan oleh daeng Nuntung adalah sebagai berikut:

  1. Berbasa-basi dulu. Ini penting karena sebagai orang Indonesia, basa-basi sangat penting untuk memecah kekakuan (breaking the ice).
  2. Menganggap nara sumber atau warga sebagai orang yang punya pengetahuan lebih dari kita. Hal ini penting untuk memberi mereka kepercayaan diri lebih karena menganggap dirinya lebih tahu dari kita yang bertanya. Jangan pernah sok tahu atau sok pintar di hadapan nara sumber.
  3. Mencari entry point atau titik masuk dalam melakukan sebuah wawancara. Misalnya ketika menemui seseorang yang sedang duduk di teras rumahnya, kita bisa memulai dengan memuji pekarangannya yang asri dengan banyak bunga. Dari entry point tersebut kita bisa mulai menggali informasi dari nara sumber, baik yang berkaitan dengan tanah, air atau hutan/tanaman di sekitar tempat tersebut.
  4. Jangan lupa untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu, terangkan dengan jelas nama Anda dan maksud kedatangan Anda ke tempat tersebut. Beritahu mereka bahwa Anda datang untuk belajar banyak tentang desa atau tempat mereka, ini penting untuk membangun kepercayaan diri mereka dan menempatkan mereka lebih tinggi dari Anda.
  5. Ajukan pertanyaan-pertanyaan faktual yang bisa dijawab dengan angka atau kuantifikasi. Jangan mengajukan pertanyaan yang membuat nara sumber berpikir lama dan akhirnya hanya mengira-ngira. Misalnya, Anda ingin tahu mereka biasanya sarapan pakai apa. Jangan tanya: biasanya bapak sarapan dengan apa? Pertanyaan ini akan dijawab dengan jawaban yang belum tentu faktual. Cobalah untuk bertanya; pagi ini bapak sarapan pakai apa? Kalau misalnya dia menjawab nasi, maka ajukan lagi pertanyaan berikutnya; kemarin juga pakai nasi? Jawaban atas pertanyaan ini bisa menjadi kesimpulan apakah si bapak memang tiap hari sarapan nasi atau tidak.
  6. Jangan memulai dengan pertanyaan tentang sesuatu yang tidak ada, tapi mulailah dengan pertanyaan tentang sesuatu yang ada. Misal, Anda tidak menemukan ada WC di rumah seorang warga, jangan memulai dengan pertanyaan: kenapa bapak tidak punya WC? Bertanya tentang sesuatu yang tidak ada akan membuat nara sumber kehilangan kepercayaan diri dan mungkin jadi merasa inferior. Akan sulit menggali jawaban berikutnya dari nara sumber yang sudah terlanjur inferior atau tidak percaya diri.
  7. Ketika wawancara sudah mulai berjalan, bayangkan titik-titik persimpangan yang akan membawa Anda ke tema spesifik yang ingin Anda gali. Ada kalanya Anda tersesat dalam percakapan yang tidak penting, atau Anda kesulitan menggali informasi tentang satu topik yang membuat Anda tertarik. Ketika masa itu tiba, kembalilah ke titik persimpangan (biforcation) sebelumnya untuk kemudian berbelok ke cabang yang lain.
  8. Tutup wawancara dengan kutipan-kutipan yang membuat nara sumber jadi termotivasi. Misalnya; wah apa yang bapak lakukan ini benar-benar luar biasa. Saya kagum. Dll.
Kelas lapangan, observasi dan wawancara di pulau Lae-Lae

Kelas lapangan, observasi dan wawancara di pulau Lae-Lae

Setelah teori tentang observasi dan wawancara, peserta Kelas Menulis Kepo kemudian diajak untuk langsung terjun ke lapangan, tepatnya ke pulau Lae-Lae yang berada tak jauh dari kota Makassar. Kunjungan lapangan ini diadakan di hari Minggu tanggal 14 Februari 2016. Para peserta diminta untuk melaukan obsevasi, mencatat fakta apa saja yang mereka temukan dan melakukan wawancara sekilas dengan warga.

Dari kegiatan tersebut, para peserta yang berjumlah delapan orang mengaku menemukan beberapa tema yang akan diangkat untuk tulisan mereka.

Berikut videonya:

 

Inisiasi beberapa pegiat komunitas di Makassar untuk sama-sama belajar menulis
Posted in Catatan and tagged , .

Kelas Kepo

Inisiasi beberapa pegiat komunitas di Makassar untuk sama-sama belajar menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *