Belajar Otoetnografi; Sebuah Pengantar

Pertemuan perdana, 3 September 2016

Pertemuan perdana, 3 September 2016

Sekisar setahun yang lalu, Kelas Menulis Kepo pernah menggelar satu pertemuan yang diampu Kakanda Dany Sirimorok, seorang peneliti dan penulis. Pertemuan itu dianggap sebagai ekstrakurikuler, di luar pelajaran rutin yang digelar Kelas Menulis Kepo.

Otoetnografi, demikian nama ilmu yang diajarkan kak Dandy-demikian kami memanggilnya. Dalam ilmu antropolgi, otoetnografi adalah sebuah kajian etnografi yang menggunakan si penulis sebagai subjek utama. Sederhananya, otoetnografi adalah etnografi yang menjadikan si penulis sebagai latar utama, meneliti tentang kehidupannya sendiri.

Sebenarnya, apa pentingnya meneliti diri sendiri? Pertanyaan ini sempat muncul di kepala saya ketika pelajaran berlangsung. Tanpa sempat diajukan, pertanyaan itu kemudian menemukan penjelasan. Manusia adalah makhluk sosial, hidup dalam sebuah tatanan sosial dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Dalam interaksi itu selalu saja ada budaya yang mengikat dan mungkin saja sub budaya baru yang tercipta. Semua itu penting untuk dicatat dan diteliti karena menyangkut kehidupan sosial dalam skala yang lebih besar. Jadi, otonetnografi penting dilakukan untuk melihat gejala sosial yang lebih luas dalam sebuah proses kehidupan.

Tinimbang menunggu orang lain menuliskannya, akan lebih baik bila kita sendiri sebagai pelakunya yang menulis gejala tersebut. Sentuhannya tentu saja akan lebih personal dan mungkin saja subjektif. Tak mengapa, toh tak semua hal harus objektif.

Pertemuan setahun lalu tidak berjalan mulus. Hanya sekali pertemuan lalu tak sempat lagi dilanjutkan. Alasan klasik berupa kesibukan menjadi penghalangnya, padahal beberapa orang dari kami begitu tertarik untuk belajar lebih jauh. Lagipula belajar etnografi tentu saja tidak bisa dilakukan dengan sekali-dua kali pertemuan. Etnografi butuh waktu panjang, bahkan ada yang sampai bertahun-tahun.

Kelas perdana yang menyenangkan

Kelas perdana yang menyenangkan

Setahun berselang, akhirnya kami mendapat kesempatan untuk melanjutkan pertemuan setahun lalu. Masih dengan pemateri yang sama, kak Dandy yang begitu rendah hati membagikan ilmunya tanpa memungut bayaran.

Pertemuan perdana digelar tanggal 3 September 2016, bertempat di FKBS Tamalanrea yang berbaik hati memberikan tempat mereka untuk dijadikan tempat bertemu. Di pertemuan perdana kak Dandy kembali menjelaskan tentang apa itu otoetnografi dan metodenya seperti apa.

Di pertemuan perdana itu juga kami langsung diberi tugas melakukan observasi singkat selama 20 menit. Kami harus keluar ruangan, mencari sosok orang yang tak kami kenal dan duduk mengamatinya selama 20 menit. Hanya mengamati, tanpa melakukan interaksi apapun.

Hasil dari pengamatan itu kemudian kami tuliskan dalam sebuah cerita fiksi dengan menuangkan semua detail yang kami lihat dan kami amati. Dari perawakan orang yang kami amati, gerak-geriknya, lingkungan sekitar dan segala macam yang berkaitan dengan si orang tersebut dan kegiatannya.

Dengan praktik itu kak Dandy ingin memberikan pengenalan tentang bagaimana etnografi dilakukan. Selanjutnya beliau meminta kami untuk mulai menulis tentang diri kami sendiri, meneliti tentang diri kami dan menuliskannya.

Hal-hal penting yang digarisbawahi oleh kak Dandy hari itu adalah bahwa sebelum menuliskan otoetnografi kita sudah harus memiliki satu tema yang ada di dalam kepala. Tema itu yang akan terus menjadi semacam pagar pembatas agar tulisan tidak kemana-mana.

Menuliskan otoetnografi memang gampang-gampang susah, kadang kita akan terjebak pada jenis tulisan yang agak narsistik, terlalu banyak bercerita tentang diri sendiri tanpa mengaitkannya pada sebuah budaya yang ada di sekitar kita. Ini bisa terjadi bila kita tidak peka pada seberapa banyak informasi yang ada dan yang perlu untuk kita sebarkan.

Pertemuan kedua, 10 September 2016

Pertemuan kedua, 10 September 2016

Di pertemuan kedua, 10 September2016, berbekal tulisan yang dibuat oleh para peserta, kak Dandy makin tajam mengulas tentang metode penulisan otoetnografi. Menurutnya, hal yang penting dilakukan adalah membuat catatan harian terkait dengan apa yang ingin kita teliti. Catatan harian itu pada akhirnya nanti akan memunculkan sebuah pola yang berulang. Pola itulah yang menjadi inti dari sebuah penelitian otoetnografi.

Catatan lain yang diberikan oleh kak Dandy adalah detail. Sebuah penelitian otoetnografi sangat mementingkan detail, termasuk jumlah dan penanda waktu. Usahakan untuk menghindari kalimat; dan sebagainya, banyak, dan semacamnya, dan lain-lain.

Sebuah tulisan otoetnografi juga menuntut penulisnya untuk memaparkan beragam bukti sebelum akhirnya membuat kesimpulan. Kita dilarang untuk membuat sebuah kesimpulan yang tidak memiliki bukti dan mungkin saja sekadar sangkaan.

Pertemuan berikutnya dijadwalkan akan berlangsung tanggal 17 September 2016. Kelas otoetnografi ini dijadwalkan akan berlangsung sebanyak empat pertemuan yang mungkin saja akan jadi jumlah minimal mengingat belajar etnografi memang butuh waktu yang panjang.

Inisiasi beberapa pegiat komunitas di Makassar untuk sama-sama belajar menulis
Posted in Catatan and tagged , , , .

Kelas Kepo

Inisiasi beberapa pegiat komunitas di Makassar untuk sama-sama belajar menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *