Ide dan Sudut Pandang di Pertemuan Ketiga

Kelas Menulis Kepo

Jumat 17 Februari 2017, pertemuan ketiga Kelas Menulis Kepo angkatan IV kembali digelar. Tempat yang dipilih masih sama, Brew Brothers Coffee Shop kawasan Ruko Akik Hijau, Panakkukang. Pertemuan ketiga ini berisi tinjauan terhadap tulisan teman-teman peserta Kelas Menulis Kepo angkatan IV.

Seminggu sebelumnya, selepas materi Ide, Sudut Pandang, dan Kerangka Tulisan, peserta diberi tugas untuk membuat sebuah tulisan. Ide utamanya adalah benda-benda yang paling berkesan oleh mereka. Benda itu bisa berupa apa saja, asalkan menjadi sebuah benda yang paling berkesan. Baik itu berkesan karena disayangi, atau berkesan karena justru tidak disukai.

Dari semua peserta, rata-rata menceritakan tentang benda-benda yang mereka sayangi atau benda-benda yang menyimpan cerita tersendiri bagi mereka. Baizul Zaman misalnya, dia menuliskan cerita tentang kamera digitalnya yang digondol maling. Kamera itu dibelinya dengan uang hasil menabung sekian lama, namun nasib buruk menghampiri ketika Zul-demikian dia biasa disapa- pulang ke kamar kost dan mendapati lacinya sudah kosong melompong. Cerita Zul bisa dibaca di sini.

Hamid Zainal, peserta lainnya menulis tentang kedekatannya dengan sebuah telepon genggam bermerek Nokia. Hamid menceritakan bagaimana Nokia sudah menemaninya sejak pertama menggunakan telepon genggam, bahkan dia tetap setia menggunakan Nokia ketika banyak orang beralih ke telepon genggam dengan perangkat lunak Android atau iOs. Bahkan ketika Hamid kehilangan telepon genggamnya untuk ketiga kalinya, dia tetap mencoba bertahan dan menabung demi menanti datangnya telepon genggam Nokia seri terbaru. Cerita Hamid bisa dibaca di sini.

Kelas Menulis Kepo Angkatan IV

Dari pertemuan ketiga pekan kemarin, beberapa hal yang mengemuka adalah sebagai berikut:

IDE. Sebagian besar peserta sudah mampu menemukan ide yang dekat dengan keseharian mereka. Bahkan, Hasymi Arif bisa membuat sebuah tulisan dari tidak adanya ide. Hasymi bercerita tentang bagaimana dia bingung ketika diminta untuk memilih satu benda yang paling dia sayangi. (Tulisannya bisa dibaca di sini).  Ini bukti bahwa ketiadaan ide pun bisa diolah menjadi sebuah tulisan yang menarik.

SUDUT PANDANG. Ada beberapa peserta yang dianggap memiliki sudut pandang berbeda dan justru membuat tulisan mereka menarik. Salah satunya adalah Sultan A. Munandar yang mengambil sudut pandang justru dari benda yang diceritakan, bukan dari sang pemilik. Di tulisan ini, Sultan membuat pembaca harus menebak-nebak sejak awal, benda apa gerangan yang ingin dituliskannya. Hingga akhirnya pembaca akan menemukannya sendiri di akhir cerita.

Selain Sultan, ada juga Arniati yang bercerita tentang sebuah benda yang punya kenangan buruk baginya. Sudut pandang yang dipilihnya menarik karena dia membuka dengan cerita tentang seseorang yang juga punya kenangan buruk dalam kehidupannya. (Tulisannya ada di sini).

FOKUS CERITA. Ada beberapa peserta yang diberi catatan tambahan di bagian ini. Fadli misalnya, dia yang pernah tinggal setahun di Papua Barat menceritakan tentang sebuah benda yang berkesan baginya. Benda bernama tomang itu diberikan oleh seorang warga di sana sebagai tanda kalau dia diterima dalam keluarga besar mereka. Ceritanya menarik, sayangnya Fadli seperti terpengaruh untuk bercerita terlalu panjang lebar sehingga seperti sejenak terlupa pada fokus utama ceritanya. Cerita Fadli bisa dibaca di sini.

Lain Fadli, lain Citra. Perempuan yang satu ini mencoba menceritakan tentang sebuah benda kesayangannya dengan cara yang berbeda. Dia menyajikannya dalam poin-poin satu sampai lima. Tidak salah, hanya saja poin-poin seperti itu terlalu mudah dan seperti kurang menantang diri sendiri. Catatan itu diberikan khusus untuk Citra karena seharusnya dia bisa menulis jauh lebih bagus dari sekadar menyajikan poin-poin yang paragrafnya tidak berhubungan satu sama lain. Tulisan Citra bisa dibaca di sini.

SENTUHAN PERSONAL. Ini masih menjadi tantangan besar bagi semua peserta. Rata-rata masih belum berhasil memberikan sentuhan personal yang dalam untuk cerita yang mereka buat. Seperti Rahmat misalnya, dia bercerita tentang ATM dengan gaya yang datar seperti bagaimana orang menuliskan sebuah makalah di bangku sekolah. Rahmat mendapat masukan untuk membuat ceritanya lebih personal dengan memasukkan pengalaman-pengalaman pribadinya dengan kartu ATM.

Kritikan yang sama juga diberikan kepada Ulma yang menulis tentang bantal kuning bulat kesayangannya. Ulma dianggap belum memberikan sentuhan personal pada ceritanya tentang bagaimana dia kadang susah tidur ketika berpisah dengan si bantal. Mhimi pun seperti itu, dia yang bercerita tentang jarum pentul masih punya kekurangan dari sisi memberi sentuhan personal. Kita tidak menemukan detail cerita yang sangat personal tentang hubungannya dengan jarum pentul yang sebenarnya penuh cerita.

Dua peserta yang lain (Tismi dan Irma) sudah cukup bagus dalam memberikan sentuhan personal pada cerita mereka. Tulisan Tismi bisa dibaca di sini dan tulisan Irma bisa dibaca di sini.)

PEMBUKA CERITA. Lead atau paragraf awal sebuah tulisan sebuah hal yang sangat penting. Lead adalah kontrak penulis dengan pembacanya. Lead yang bagus potensial membuat pembaca betah untuk membaca hingga selesai, sebaliknya lead yang membosankan atau biasa saja potensial membuat pembaca berhenti membaca sebelum tulisan selesai.

Inilah yang ditekankan kepada peserta dan sebagian memang masih bermasalah di sisi ini. Evhy misalnya, dia memulai tulisan dengan deskripsi yang datar, padahal di bagian bawah tulisan ada paragraf yang sebenarnya menarik jika ditaruh di bagian awal. Tulisan Evhy bisa dibaca di sini.

Satu tulisan yang sangat menarik dan bahkan membuatnya terpilih sebagai tulisan terbaik pekan ketiga adalah tulisan milik Rara. Rara sang pemilik tulisan bercerita tentang sebuah benda kesayangan milik almarhumah neneknya yang sudah meninggal tujuh tahun lalu. Tulisannya menarik karena dibuka dengan rangkaian kata yang mengalun pelan seperti sengaja membawa kenangan ke masa lalu. Tidak salah kalau tulisan Rara terpilih sebagai tulisan terbaik pekan ketiga.

Ada satu lagi tulisan milik Anna yang tidak ditinjau bersama-sama karena pemiliknya tidak sempat hadir di pertemuan ketiga.

Bagi kakak-kakak penjaga kelas, apa yang dibagikan di pekan ketiga ini sungguh menggembirakan. Semangat teman-teman angkatan IV dalam mengerjakan tugas tentu juga menular kepada para pendamping. Mudah-mudahan semua tetap semangat hingga kelas usai.

Inisiasi beberapa pegiat komunitas di Makassar untuk sama-sama belajar menulis
Posted in Catatan and tagged , .

Kelas Kepo

Inisiasi beberapa pegiat komunitas di Makassar untuk sama-sama belajar menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *