Tentang Penulisan Sosok dan Kejutan di Akhir Pertemuan

Pertemuan kesepuluh Kelas Menulis Kepo (foto: Anna Asriani)

Di pertemuan kesepuluh Kelas Menulis Kepo Angkatan IV yang digelar Jumat kemarin (7/Apr), ada kejutan manis yang datang di akhir acara.

Pertemuan itu sendiri agenda sebenarnya adalah pratinjau tugas menulis sosok yang sudah diberikan tiga pekan sebelumnya. Tugas menulis sosok ini adalah untuk mempraktikkan teknik wawancara yang sudah diberikan tiga pekan sebelumnya. Peserta diberi tugas menuliskan tentang satu tokoh, bisa siapa saja asal dianggap punya sesuatu yang bisa dituliskan. Entah itu karena pengorbanannya, dedikasinya atau kegiatannya.

Dalam menuliskan si sosok ini, peserta diminta untuk melakukan wawancara menggali lebih dalam tentang kisah si tokoh. Dalam penulisannya, peserta juga diminta untuk mempraktikkan teknik menulis yang sudah diberikan sebelumnya, baik itu teknik menyusun paragraf, membuat kerangka maupun deskripsi.

Dari beberapa tugas yang masuk, ada beberapa catatan yang penting untuk disimak seperti berikut ini:

KESULITAN MENGHUBUNGKAN CERITA. Salah satu peserta – Tismi Dipalaya – menuliskan tentang seorang penyandang tunanetra bernama pak Azis. Kisah ini diberinya judul Pak Azis dan Kota Dunia. Bahan yang dimiliki Tismi sebenarnya sangat bagus, pun dia sudah berhasil membangun cerita yang runut dan menyentuh tentang kisah pak Azis yang kesulitan hidup di kota besar seperti Makassar dengan keterbatasan penglihatannya.

Sayangnya, Tismi masih belum berhasil menarik benang merah antara kisahnya dengan tema yang dia angkat. Tismi luput di bagian menceritakan bagaimana sulitnya pak Azis hidup di jalanan kota Makassar dengan keterbatasan penglihatannya. Sesuatu yang ironi karena Makassar sedang menggadang-gadangkan jargon “Menuju Kota Dunia”, namun kenyataannya hanya bangunan saja yang dibuat megah, kebutuhan dasar warga kota sebagai manusia justru masih jauh panggang dari api.

KESULITAN MENGHIDUPKAN TOKOH. Dalam menulis sosok, salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana menghidupkan si tokoh utama ke dalam cerita. Hal ini menjadi kekurangan terbesar dari tulisan Rara yang berjudul Kata-Kata di Dalam Kepala Arul. Dalam tulisannya, tokoh Arul yang dihadirkan oleh Rara masih belum terasa hidup. Arul masih sekadar seorang anak yang diamati tanpa diberi kesempatan berinteraksi dengan pembaca.

Tips untuk menghidupkan seorang tokoh dalam sebuah tulisan adalah dengan memberinya ruang untuk berbicara. Berbicara lewat kutipan langsung sehingga seakan-akan si tokoh hadir dalam cerita yang dibangun.

BELUM BISA MENGHADIRKAN TITIK KRITIS. Kesulitan ini dihadapi oleh Mhimi di tulisannya: Andi Zulkarnain; Pendidikan Yang Merata. Dalam tulisan itu Mhimi menceritakan kisah seorang anak muda yang mengabdikan hidupnya untuk membangun jejaring dan pusat pendidikan bahasa yang murah, terjangkau namun berkualitas.

Sayangnya, Mhimi luput untuk menunjukkan titik kritis yang membuat si tokoh utama dalam tulisannya memilih jalan tersebut. Padahal titik kritis ini penting untuk menjabarkan apa yang mendasari si tokoh utama melakukan hal yang tidak lazim itu. Apakah itu didasari oleh sebuah kejadian tertentu? Atau jangan-jangan itu sekadar usaha melanjutkan hidup saja?

TERLALU BANYAK KUTIPAN LANGSUNG. Baizul Zaman (akrab disapa Zul) menghadirkan tulisan berjudul Pengembang Photo Booth Canggih Berbasis IOT. Di cerita itu, Zul menuliskan tentang seorang tokoh muda yang berinovasi menghadirkan kreasi photo booth yang sudah lebih canggih karena sudah bisa langsung daring.

Salah satu kekurangan tulisan ini adalah ketika Zul terlalu banyak menghadirkan kutipan langsung sehingga kesannya tulisan ini hampir menyerupai transkrip wawancara. Hal yang sama juga dialami oleh Evhy lewat tulisannya: Menilik Satu Dekade Rumah Baca. Di tulisan itu, Evhy juga terjebak pada kekurangan terlalu banyak menghadirkan kutipan langsung, bahkan kehadiran Evhy sebagai penulis terasa cukup mengganggu alur tulisan karena seakan-akan ada dua tokoh yang hadir; si pemilik rumah baca dan Evhy sendiri.

USAHA KERAS MENEMUI NARASUMBER. Hasymi Arif mencoba untuk menuliskan sosok seorang pelukis dan perupa yang sudah terkenal dari kota Makassar, Zainal Beta. Namun rupanya usaha itu tidak mudah, Hasymi bahkan harus bolak-balik hingga empat kali sebelum akhirnya berhasil menemui Zainal Beta. Usaha keras Hasymi ini tentu patut diapresiasi, apalagi untuk ukuran penulis baru sekelas Hasymi.

Tulisan Hasymi sendiri yang berjudul Menyatukan Tanah, Menyatukan Indonesia sudah dianggap cukup bagus sebagai sebuah tulisan sosok. Satu-satunya kekurangan adalah Hasymi luput untuk meminta pendapat dari orang ketiga tentang sosok yang dituliskannya. Pendapat dari orang ketiga tentu akan memperkuat kehadiran si tokoh utama dalam tulisannya.

Foto: Anna Asriani

Satu hal lagi yang juga dibahas di kelas ini adalah perbedaan menuliskan sosok seseorang yang sudah cukup terkenal dengan “orang biasa”. Mereka yang sudah terkenal sedikit banyaknya sudah terbentuk karakternya dan mungkin saja sudah sering diliput media. Ini tentu membantu mempermudah penulis untuk menghadirkannya dalam sebuah tulisan. Hal ini berbeda dengan ketika kita akan menuliskan sosok “orang biasa” yang belum terkenal. Tantangannya jadi sedikit lebih berat. Selain karena karakter si tokoh yang belum terbentuk, juga karena kita sendiri belum terlalu mengenal si tokoh.

*****

Lalu, kejutan apa yang hadir di malam itu? Jawabannya adalah kehadiran seorang Khrisna Pabichara, seorang novelis dan penulis puisi. Karya-karyanya di antaranya adalah novel Sepatu Dahlan dan Natisha serta berderet puisi-puisi lainnya. Kebetulan kak Khrisna –demikian kami menyapanya – sedang berada di Makassar malam itu. Meski dengan tubuh yang kurang sehat, Khrisna menyempatkan diri untuk datang ke pertemuan Kelas Menulis Kepo. Sebenarnya ini bukan kali pertama dia melakukannya, di beberapa angkatan sebelumnya kak Khrisna juga sering menyempatkan diri untuk datang dan berbagi di Kelas Menulis Kepo.

Khrisna Pabichara ketika berbagi di KM Kepo

Ada beberapa hal yang dibagikan kak Khrisna malam itu. Salah satunya adalah tentang bagaimana menghidupkan seorang tokoh dalam cerita. Menurutnya, salah satu tipsnya adalah memperbanyak belajar dengan metode menulis fiksi. Si tokoh dituliskan dengan gaya fiksi hingga terasa benar si tokoh menjadi lebih hidup.

Hal lain yang ditekankan oleh kak Khrisna adalah kemauan untuk terus menerus berlatih, menulis, menulis dan menulis. Menurut kak Khrisna, penulis pemula harus lebih memilih mendahulukan kuantitas dulu sebelum berpikir banyak tentang kualitas. Menulis dan terus menulis sebanyak-banyaknya pada akhirnya akan membuat penulis pemula menjadi lebih terbiasa menulis dan kualitas juga akan meningkat dengan sendirinya.

“Bagaimana kita mau meningkatkan kualitas kalau tidak berlatih terus menerus?” Kata kak Khrisna.

Namun, kak Khrisna juga menekankan untuk memberi batasan mana tulisan yang bisa dibagikan ke publik, mana yang tidak. Penulis baru harus bisa memilah mana tulisan yang sudah layak untuk dibagikan, mana yang sekadar untuk jadi konsumsi pribadi saja.

“Jangan terlalu sering menampakkan kebodohan ke publik,” katanya.

Kak Khrisna pun menekankan pentingnya menulis. Menurut dia, kebiasaan menulis itu akan membuat kita hidup melampaui usia kita. Meski pada akhirnya kita akan berlakang tanah, namun tulisan kita bisa saja akan terus hidup, menembus jaman demi jaman dan dibaca terus menerus.

Sesi berbagi dengan Khrisna Pabichara memang tidak terlalu lama, namun apa yang dibagikannya cukup untuk memantik kembali api semangat teman-teman peserta Kelas Menulis Kepo angkatan IV.

Sampai bertemu di sesi berikutnya!

Inisiasi beberapa pegiat komunitas di Makassar untuk sama-sama belajar menulis
Posted in Catatan and tagged , .

Kelas Kepo

Inisiasi beberapa pegiat komunitas di Makassar untuk sama-sama belajar menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *