Sebuah Catatan Dari Kelas Menulis Kepo

20150804_172316

Hampir lima bulan berjalan dan Kelas Menulis KEPO akhirnya sampai pada tahap evaluasi pertama.

Berawal dari Pesta Komunitas Makassar 2015, beberapa anak-anak muda kemudian tertarik untuk memperdalam kemampuan menulis dan sepakat membentuk kelas baru yang mereka namakan Kelas Menulis KEPO. Kepo adalah istilah yang digunakan anak-anak sekarang untuk menggambarkan rasa ingin tahu yang besar, jadi kelas ini diharapkan menghasilkan para penulis yang punya rasa ingin tahu yang besar. Selain itu akronim KEPO juga sesuai dengan tempat mereka biasa berkumpul; Kedai Pojok Adhyaksa.

Selama lima bulan sejak Mei 2015, anak-anak muda itu terus berlatih untuk menulis. Berlatih meningkatkan kemampuan meski kadang-kadang penyakit laten para penulis juga menghinggapi. Tak ada ide, tak ada kesempatan dan tak ada mood. Sesekali kelas kosong, tak ada yang bisa menulis, tak ada yang bisa memperbaharui blog.

Meski tertatih, kelas terus bergulir.

Beberapa orang berhasil mereka datangkan untuk berbagi tentang dunia kepenulisan. Ada kak Jimpe yang seorang penulis, editor dan pegiat literasi Makassar yang sudah jadi karib. Pernah juga mereka mendatangkan Eko Rusdianto, wartawan lepas yang tulisannya selalu renyah dan enak dibaca. Pernah pula mereka turun ke lapangan, ke satu situs purbakala yang belum terlalu populer. Di sana mereka belajar mencari data, mewawancarai akademisi dan warga lalu menuliskannya di blog.

Bahkan seorang Maman Suherman dan Khrisna Pabhicarapun pernah ditodong untuk berbagi tips menulis di Kelas Menulis KEPO. Sesuai tagline mereka; siapa saja bisa jadi guru, belajar di mana saja, belajar kapan saja dan makan apa saja.

Kelas ini juga tidak main-main dan asal-asalan. Pasalnya, banyak orang yang sudah meluangkan waktu tanpa dibayar untuk berbagi ilmu menulis. Bayarannya hanya satu; para anggota kelas harus serius menyimak dan mengamalkan apa yang mereka dapat. Para pengajar sudah senang, tak perlu dibayar dengan materi.

*****

Lalu muncullah ide untuk membuat evaluasi, mencari tahu seberapa besar perkembangan para siswa Kelas Menulis KEPO. Saya termasuk salah satu yang ikut mengevaluasi mereka, membaca tulisan mereka dan memberikan nilai. Memang tidak semua berhasil mengikuti evaluasi karena beragam alasan, dan dari sedikit yang ikut saya memberikan catatan sebagai berikut:

Pertama, jelas sekali kalau ada peningkatan kualitas dari mereka yang ikut kelas menulis. Mereka jadi lebih mudah menyusun sebuah tulisan yang mengalir, lebih bisa merangkai kata-kata dan bahkan lebih mudah mencari ide yang tak umum untuk ditulis.

Paling mudah terlihat pada tulisan Iyan. Di awal kelas dia menulis tentang kemeriahan Pesta Komunitas Makassar yang hasilnya sebenarnya cukup bagus hanya saja masih terasa datar. Lalu di penghujung kelas dia muncul dengan tulisan ilmiah dan informatif tentang pola kerja di UGD yang kadang belum dipahami orang awam. Ian memang seorang pelaku dunia kesehatan, dan menarik membaca informasi dunia kesehatan yang dipaparkan dengan sederhana dan tidak memusingkan.

Selain Ian ada juga dokter Kiky, seorang dokter muda yang di fase evaluasi juga menyodorkan tulisan tentang dunia kesehatan yang disajikan dengan cara yang santai dan enak dibaca. Keduanya lumayan berhasil menyajikan fakta-fakta kesehatan dengan cara yang ngepop. Jelas ada peningkatan kualitas menulis dari kedua peserta yang kebetulan meraih poin tertinggi dari evaluasi kemarin.

Kedua, ada yang tidak stabil alias naik-turun. Di fase evaluasi kemarin terus terang ada dua orang yang membuat kami kecewa, Enal dan Nunu. Mereka sebenarnya punya kemampuan menulis yang bagus, Nunu bahkan sudah pernah meraih penghargaan dalam sebuah lomba blog yang diadakan dinas pariwisata SulSel. Sayangnya, tulisan yang disodorkan mereka di fase evaluasi justru jauh dari harapan kami.

Enal menulis terlalu hati-hati tentang salah satu komunitas tempatnya bercokol. Tak ada konflik yang diangkat sehingga cerita jadi kurang menarik. Sementara Nunu, terlalu banyak memasukkan cerita dalam satu tulisan sehingga tulisannya kehilangan fokus. Jauh dari tulisan terbaiknya yang sempat meraih gelar juara itu.

Ketiga, ada peserta yang unik. Adalah Na’ yang menjadi satu-satunya peserta yang tulisannya tidak bisa kami beri nilai. Alasannya, tulisannya bergenre fiksi dan kami yang disuruh menilai tidak merasa punya kapabilitas untuk menilai tulisan bergenre fiksi. Kami takut memberi nilai untuk sesuatu yang tidak kami kuasai. Jadilah tulisan Na’ dibiarkan begitu saja, diberi nilai khusus karena kami tak tahu berapa tepatnya nilai yang bisa kami berikan.

Selain tiga catatan penting di atas sebenarnya ada beberapa catatan kecil yang menyertai. Termasuk beberapa peserta kelas yang masih mengulang kesalahan yang sama, bahkan kesalahan mendasar. Mulai dari EYD, cerita yang terlalu melebar sampai kesulitan menyambungkan paragraf.

Tapi buat saya tak mengapa, setidaknya mereka sudah menunjukkan perkembangan dibanding tulisan-tulisan mereka sebelum ikut kelas. Menyenangkan melihat progres itu tercipta. Mungkin masalahnya hanya pada seberapa besar keinginan mereka untuk berkembang lebih baik.

Kelas baru segera akan dimulai, peserta yang lamapun akan beranjak ke level berikutnya. Semoga saja semangat mereka tetap terjaga, semoga mereka lebih mampu mengatasi segala hambatan yang kadang membuat mereka sulit untuk menulis. Semoga mereka mempercayai apa yang saya percayai; bahwa menulis itu sangat banyak gunanya. [dG]

Blogger, pekerja lepas, konsultan penulis, belajar memotret
“Aku pergi karena tugas, aku kembali karena cinta”
blog: daenggassing.com | Twitter: @ipulgs | Instagram: @ipulgs
Posted in Catatan and tagged , .

iPul Gassing

Blogger, pekerja lepas, konsultan penulis, belajar memotret
"Aku pergi karena tugas, aku kembali karena cinta"
blog: daenggassing.com | Twitter: @ipulgs | Instagram: @ipulgs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *