Bagaimana Menyusun Kerangka Tulisan?

kerangka tulisan

Pertemuan keempat Kelas Menulis Kepo Angkatan III digelar Sabtu, 30 April 2016. Tema pertemuan kelas kali ini adalah tentang bagaimana menyusun kerangka. Tampil sebagai pembagi materi adalah salah satu penjaga kelas, Daeng Ipul yang sekaligus juga seorang blogger.

Dalam pemaparannya, Daeng Ipul membagikan metode menyusun kerangka yang biasa dilakukannya. Menurutnya, menyusun kerangka tulisan punya banyak metode yang disesuaikan dengan kebiasaan para penulis, jadi tidak ada metode baku untuk menyusun kerangka tulisan.

Menurutnya lagi, kerangka tulisan penting untuk membuat tulisan tetap fokus dan tidak melebar kemana-mana. Selain itu kerangka tulisan juga penting untuk membuat penulis tidak bingung harus memulai dari mana, harus menulis apa dan bagaimana menutup tulisan.

Berikut adalah empat langkah yang dibagikan Daeng Ipul dalam menyusun kerangka tulisan:

A. Menentukan Tema dan Sudut Pandang Tulisan.

Sebelum memulai menulis, para penulis sebaiknya sudah punya gambaran tentang tema apa yang akan ditulisnya dan sudut pandang mana yang akan diambilnya. Ini adalah modal utama agar penulis tahu apa yang akan ditulisnya.

B Menentukan Alur Tulisan.

Setelah tahu apa yang akan ditulis dan sudut pandang mana yang akan diambil, saatnya menentukan alur tulisan. Ini penting untuk bisa menentukan bagaimana tulisan ini nantinya akan mengalir. Daeng Ipul mengambil dasar dari buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo” untuk memaparkan beberapa alur tulisan.

Menurut buku tersebut, tulisan setidaknya memiliki tiga alur sebagai berikut:

  1. Alur Kronologis. Alur ini biasanya dipilih untuk menggambarkan sebuah kejadian atau jalan hidup seseorang (biografi). Alur ini berlangsung runut, dari awal hingga akhir. Contohnya ketika menulis tentang sebuah konser, penulis akan memulai dari awal dia mendapat informasi tentang konser itu, bagaimana dia membeli tiket konsernya, bersiap ke konser tersebut, menikmati konser dan ditutup dengan perasaannya ketika konser sudah selesai.
  2. Alur Bangunan. Alur ini mirip dengan alur kronologis, runut dari awal sampai akhir. Bedanya, alur ini dipakai untuk menggambarkan sebuah bangunan atau pengalaman memasuki sebuah bangunan. Contohnya ketika menulis tentang sebuah museum, penulis akan memulai dengan pengalaman ketika masuk ke museum tersebut dimulai dari halaman, bergeser ke teras, ruang depan dan seterusnya. Penulis akan menceritakan secara detail apa yang dia lihat dan apa yang dia rasakan, lengkap dengan deskripsi bangunan tersebut.
  3. Alur Logis. Alur ini berbeda dengan dua alur di atas, alur logis tidak selamanya runut dan tidak menggunakan penanda waktu tapi penanda logika. Alur ini terbagi atas lima bagian yaitu:
    1. Alur Sebab-Akibat. Dalam alur ini cerita akan dimulai dengan sebuah fenomena yang disebabkan oleh sesuatu, dari situ cerita akan bergeser kepada akibat dari fenomena tersebut. Contoh tulisan tentang begal di kota Makassar. Cerita ini bisa dibuka dengan fenomena begal yang menakutkan warga, kemudian dilanjutkan dengan cerita-cerita dari media massa tentang maraknya begal, pendapat warga, pemerintah kota dan sebagainya. Cerita ini lalu ditutup dengan penuturan para korban begal.
    2. Alur Akibat-Sebab. Alur ini berkebalikan dengan alur sebab-akibat, dengan contoh tema yang sama tulisan akan dimulai dengan cerita para korban begal, dilanjutkan dengan berita-berita tentang begal, pendapat warga, pemerintah kota dan sebagainya lalu ditutup dengan kesimpulan penyebab dari fenomena tersebut. Intinya alur ini dimulai dengan akibat dari fenomena dulu baru kemudian dilanjutkan dengan penyebab dari fenomena tersebut.
    3. Alur Umum-Khusus. Alur ini dibuka dengan sebuah cerita umum tentang sebuah fenomena atau tempat, kemudian dilanjutkan dengan mengkhususkan pada sebuah kejadian yang merupakan bagian dari cerita besar tersebut. Contoh, seseorang menulis tentang kebiasaan mahasiswa berbelanja pakaian bekas di sebuah pasar dengan alasan ekonomi. Cerita akan dibuka dengan cerita tentang pasar tradisional, lalu perlahan bergeser kepada fenomena mahasiswa berkantong tipis yang memilih berbelanja pakaian bekas di pasar tradisional tersebut.
    4. Alur Khusus-Umum. Berkebalikan dengan alur umum-khusus, alur ini dimulai dengan sesuatu yang khusus dulu sebelum kemudian bergeser ke sesuatu yang lebih umum. Dengan contoh yang sama, cerita akan dimulai dengan para mahasiswa yang memilih berbelanja ke pasar tradisional karena alasan murah, dari sana cerita akan bergeser kepada hal yang lebih umum dari pasar tradisional.
    5. Alur Pemecahan Masalah. Alur ini adalah campuran dari alur-alur di atas, cerita dimulai dengan sebuah masalah, bergeser kepada latar belakang masalah tersebut dan diakhiri dengan usulan pemecahan masalah. Contohnya menulis tentang banjir. Cerita bisa dimulai dari bagaimana banjir menyerang kota, kira-kira apa masalahnya dan diakhiri dengan pendapat para ahli tentang usulan pemecahan masalah.

C. Menyusun Pertanyaan.

Setelah menentukan tema dan memilih alur, maka saatnya untuk ke langkah berikutnya; menyusun pertanyaan. Daeng Ipul menekankan bahwa pada langkah inilah, tulang punggung sebuah tulisan bisa mulai dibuat. Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk menentukan apa yang akan kita tulis.

Contohnya ketika akan menulis tentang profesi polisi cepek (pak Ogah) di Makassar, penulis bisa menyusun pertanyaan sebagai berikut:

  1. Daerah mana saja ada banyak pak Ogah?
  2. Dari mana saja mereka?
  3. Apa yang mereka lakukan?
  4. Apakah mereka benar-benar membantu pengendara?
  5. Kabarnya ada pak Ogah yang memaksa meminta uang, benarkah?
  6. Bagaimana pendapat pengguna jalan tentang kehadiran mereka?
  7. Bagaimana pendapat pak Ogah sendiri ketika dituding malah jadi penyebab kemacetan?
  8. Bagaimana pendapat pemerintah kota atau polisi lalu lintas sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu jadi dasar untuk mulai mencari data atau fakta dalam menyusun tulisan.

D. Menjawab pertanyaan tersebut dalam paragraf pendek.

Setelah pertanyaan disusun, saatnya untuk menjawab pertanyaan tersebut dalam paragraf pendek yang nantinya akan disusun menjadi paragraf panjang dalam sebuah tulisan. Jawaban-jawab atas pertanyaan tersebutlah yang sesungguhnya menjadi isi tulisan.

Menyusun kerangka tulisan dengan metode yang dibagikan oleh Daeng Ipul di atas bisa menjadi satu cara untuk membuat tulisan tetap fokus dan tidak kemana-mana, selain itu tentu saja membuat penulis jadi lebih bisa membayangkan apa saja yang akan dia tulis.

Sebagai tambahan, para penjaga Kelas Menulis Kepo juga membagikan tips menutup sebuah tulisan. Menutup tulisan bisa dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan memberi kesimpulan dari seluruh cerita yang disusun atau bahkan bisa saja membuat akhir tulisan yang menggantung dengan sebuah pertanyaan yang mengundang rasa penasaran pembaca.

Kelas hari itu kemudian ditutup dengan pemberian tugas kepada para peserta. Peserta diminta untuk membongkar dan menyusun ulang tulisan mereka tentang pasar tradisional dengan menggunakan metode menyusun kerangka tulisan seperti yang sudah diterangkan.

 

Inisiasi beberapa pegiat komunitas di Makassar untuk sama-sama belajar menulis
Posted in Catatan, Tips and tagged , , , , .

Kelas Kepo

Inisiasi beberapa pegiat komunitas di Makassar untuk sama-sama belajar menulis

4 Comments

  1. Pingback: Ide, Sudut Pandang, dan Kerangka Tulisan (Pertemuan Kedua Kelas Menulis Kepo IV) | Mujahid Zulfadli

  2. yang saya alami itu, susaaah baget menuliskan sesuatu yang ada di pikiran agar menjadi runut dan menarik dibaca. idenya ada, menuliskannya yang susah. hahah

    btw, terima kasih sudah sharing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *