Kesalahan Mendasar Penulis (Pemula)

Pencil erasing a mistake

Pencil erasing a mistake

Mungkin ini semacam penyakit bagi saya.Tidak bisa tenang kalau melihat ada yang salah tulis (bukan typo). Misal ‘merubah’ yang seharusnya ‘mengubah’, atau ‘didalam’ yang seharusnya ‘di dalam’.

Begitu status karib saya, Daeng Ipul, di Facebook. Daeng Ipul menuangkan kegelisahannya, baginya menemukan melihat kesalahan-kesalahan mendasar dalam penulisan seperti itu membuatnya tidak tenang.

Saya pun merasakan hal yang sama. Menemukan kesalahan mendasar penulisan seperti contoh di atas memang membuat tidak tenang. Pengalaman sebagai pemeriksa aksara dan penyisi tulisan membuat saya merasa gemas. Rasa – rasanya, ingin memperbaikinya seketika itu juga. Keasyikan membaca tulisan yang isinya berbobot pun akan terganggu begitu menemukan banyak kesalahan mendasar dalam penulisannya.

Saat memeriksa tulisan – tulisan peserta Kelas Menulis Kepo angkatan kedua, yang diberikan pada mereka sebagai tugas awal, saya menemukan hal yang sama. Untuk tugas pertama, kami para pendamping memang lebih fokus pada kesalahan mendasar penulisan.

Berikut ini beberapa kesalahan mendasar yang muncul pada saat kami mengulas tulisan mereka pada pertemuan pekan kedua kemarin, 9/12/15, dan bagaimana penulisan yang benar sesuai Ejaan Yang Disempurnakan

 

1. Penulisan kata ‘di’ dan ‘ke’

a. ‘Di’ dan ‘ke’ sebagai kata depan (preposisi).

Sebagai kata depan (preposisi) ‘di’ dan ‘ke’, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Untuk memudahkan, ‘di’ dan ‘ke’ sebagai preposisi hanya diikuti dengan kata yang menunjukkan tempat, bukan kata kerja.
Contoh:
di dalam, di kamar, di Makassar, di ruangan, di jalan, di sana, di depan, di sawah, di mana-mana, di sisi, di awal, dan lain – lain.
ke dalam, ke kamar, ke Makassar, ke ruangan, ke jalan, ke sana, ke depan, ke sawah, ke mana-mana, ke sisi, ke awal, dan lain – lain.

Catatan: untuk kata ‘ke’ terdapat pengecualian yaitu pada kata ‘keluar’ yang ditulis serangkai karena merupakan lawan kata (antonim) dari ‘dalam’.

b. ‘Di’ sebagai imbuhan atau awalan (prefiks)
Sebagai kata imbuhan atau awalan (prefiks), kata ‘di’ harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata ‘di’ sebagai prefiks ini berfungsi membentuk kata kerja atau verba dan bermakna pasif. Untuk memudahkan, padankan kata dasar dengan awalan ‘me-‘, jika kata dasar itu membentuk kata kerja aktif berarti harus ditulis serangkai dengan ‘di’ yang mengawalinya.
Contoh: dibawa, digigit, ditulis, dicintai, dimakan, dibaca, dan lain – lain.

c. Awalan ‘di’ dirangkaikan jika ditambahkan pada bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa Indonesia. Contoh: di–PHK, di-DO, di-upload, di-bookmark, dan lain – lain.

 

2. Penulisan kata ganti ‘ku-‘, ‘kau-‘, ‘-ku’, ‘-mu’, dan ‘-nya’

a. Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Hubungi aku jika kaurindu.
Telah kukirimkan rindu padamu melalui angin malam.
Rinduku rindumu tersimpan rapi di hati.
Rindunya begitu menggebu.

b. Kata-kata ‘-ku’,’ –mu’, dan ‘-nya’ dirangkaikan dengan tanda hubung apabila digabung dengan bentuk yang berupa singkatan atau kata yang diawali dengan huruf kapital. Contoh: KTP-mu, SIM-nya, STNK-ku

 

3. Penulisan Partikel

a. Partikel’ –lah’,’ –kah’, dan ‘-tah’ ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Simpanlah rinduku jadikan telaga.
Apakah yang tersirat dalam rindu itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya memendam rindu?

b. Partikel ‘pun’ ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Apa pun permasalahannya, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
Hendak pulang tengah malam pun sudah ada kendaraan.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku.
Jika Ayah membaca di teras, Adik pun membaca di tempat itu.

Catatan:
Partikel ‘pun’ pada gabungan yang lazim dianggap padu ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga, tugas itu akan diselesaikannya.
Baik laki-laki maupun perempuan ikut berdemonstrasi.
Sekalipun belum selesai, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
Walaupun sederhana, rumah itu tampak asri.

c. Partikel ‘per’ yang berarti ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’ ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh:
Mereka masuk ke dalam ruang satu per satu.
Harga kain itu Rp50.000,00 per helai
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.

 

4. Penggunaan huruf kapital

Masih banyak yang melakukan kesalahan mendasar penggunaan huruf kapital ini. Menuliskan nama kota dengan tidak mengawalinya dengan huruf kapital, misalnya menuliskan ‘makassar’ padahal seharusnya ‘Makassar’.
Untuk penggunaan huruf kapital yang benar bisa buka di tautan Pedoman Penggunaan Huruf Kapital.

 

5. Penggunaan ‘Pukul’ dan ‘Jam’

Masih banyak yang sulit membedakan kapan penggunaan kata ‘pukul’ dan ‘jam’ pada penulisan. Misalnya, pada kalimat: “Jam berapa kalian berkumpul?”. Kata ‘jam’ pada kalimat tersebut seharusnya diganti dengan kata ‘pukul’. Kata ‘pukul’ dan ‘jam’ memiliki makna dan fungsi berbeda. ‘Pukul’ mengandung pengertian saat atau waktu sedangkan ‘jam’ digunakan untuk menunjukkan masa atau jangka waktu.

Jadi, jika ingin mengungkapkan waktu atau saat, kata yang tepat digunakan adalah pukul. Contoh: “Kelas Menulis Kepo akan dimulai pada pukul 16.00 WITA”.
Sebaliknya, jika kita ingin mengungkapkan masa atau jangka waktu, kata yang tepat digunakan adalah jam. Contohnya: “Pertemuan itu memakan waktu sekitar empat jam”

Kata jam, selain digunakan untuk menyatakan arti masa atau jangka waktu, juga digunakan untuk benda penunjuk waktu, seperti jam tangan, jam dinding, jam meja, dan jam saku.

 

6. Penulisan singkatan yang tak dipahami umum.

Para peserta pada umumnya menuliskan singkatan yang mereka pahami dan anggap semua pembaca juga tahu. Salah satu peserta menuliskan seperti ini, “Kegiatan ini diadakan oleh Komunitas TDA Makassar sebagai bentuk apresiasi dan sarana bagi pengusaha.” Bagi pengusaha atau orang yang dekat dengan komunitas TDA ini tentu tak akan jadi masalah. Namun, bagi pembaca awam, singkatan ini akan membingungkan. Jadi sebaiknya kalimat itu ditulis “Kegiatan ini diadakan oleh Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Makassar sebagai bentuk apresiasi dan sarana bagi pengusaha.”

Tuliskan terlebih dahulu nama lengkap lalu singkatan diletakkan dalam kurung. Jika nama itu ditulis berulang pada tulisan yang sama, cukup dengan menuliskan singkatan tanpa disertai dalam kurung.
Demikian kesalahan – kesalahan mendasar yang saya temukan selama ini, baik itu yang saya lakukan sendiri atau pun ketika memeriksa dan membaca tulisan – tulisan orang lain. Kesalahan – kesalahan mendasar ini tak hanya dilakukan oleh para penulis pemula, penulis atau media cetak dan portal berita ternama pun masih sering melakukannya.

Sebaiknya, sebaiknya kita mulai mesti berhati-hati dan cermat dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari untuk menghindarkan kita dari kesalahan berbahasa.

Ada saran dan masukan mengenai Kesalahan Mendasar Penulis (Pemula) yang lainnya? Silakan isi di kolom komentar yah..

 

*disarikan dari berbagai sumber

Blogger | Pekerja Lepas | Social Media Enthusiast |Traveller Wannabe | Email: lebug@lelakibugis.net | Twitter: @lelakibugis | Blog: lelakibugis.net
Posted in Tips and tagged , .

Lelakibugis

Blogger | Pekerja Lepas | Social Media Enthusiast |Traveller Wannabe | Email: lebug@lelakibugis.net | Twitter: @lelakibugis | Blog: lelakibugis.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *